Minggu, 21 Juni 2009

The Secret Adventure of Sinbad The Land of Jinn

The Secret Adventure of Sinbad

The Land of Jinn

Ini adalah dongeng dari negeri antah berantah nun jauh disana. Dikisahkan, hidupah seorang pemuda pemberani yang tak takut akan ganasnya lautan, yang gemar menjelajahi dunia tampa batas, mengendalikan ribuan gelombang dan mengendarai ombak-ombak raksasasa, yang doyan berpetualang dan menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang sempurna. Sinbad, namanya. Orang menjulukinya Sang Raja Lautan.

Sudah banyak lautan yang ia taklukan, pengalaman yang ia dapatkan, serta petualangan-petualangan mendebarkan yang ia nikmati. Penjelajahan dunia baru, pulau-pulau tak terjamah, daerah-daerah asing nan ajaib serta petualangan-petualangan yang sulit terlupakan. Semuanya telah menjadi santapan sehari-harinya.

Semua ceritanya telah tercatat dalam sejarah, beredar dari mulut ke mulut, berterbangan bagai pasir yang tertiup angin, tertiup sampai ke pelosok-pelosok negeri, mengakar dan telah berabad-abad menjadi dongeng wajib pengantar tidur anak-anak.

Akan tetapi, dari semua cerita petualangan Sinbad yang dia tulis sendiri di buku hariannya, ada satu cerita yang ganjil, yang aneh, yang tak dia abadikan dalam tulisannya. Cerita yang tak dia selesaikan penulisannya. Sebuah cerita yang hilang, raib tertelan waktu, cerita tentang sebuah pulau asing nan misterius yang ia singgahi.

Bagaimana? Kau penasaran ingin tahu ceritanya?

Baiklah, akan kuceritakan padamu.

Tak seperti malam yang tenang seperti biasanya, malam itu langit tak berbintang. Angin malam bertiup dingin dan tajam menyayat kulit. Malam itu, tiba-tiba datanglah badai yang sangat ganas yang tak pernah disangka-sangka kehadirannya. Sinbad dan awak kapalnya berjuang mati-matian menyelamatkan kapal dan menjaganya agar tak tenggelam.

Seharusnya badai yang datang sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, tapi badai kali ini begitu dashyat. Begitu kuat, liar dan ganas. Akhirnya dengan satu hentakan gelombang yang dashyat, kapal pun terbalik. Sinbad dan teman-temannya terhempas ke lautan luas. Terombang-ambing dan hanyut ditelan badai.

Alhamdulillah, Tuhan masih sayang padanya. Sinbad tersadar dari pingsannya. Dia diantarkan gelombang ke sebuah pulau. Pulau yang sangat indah dan memukau. Masih asri dan belum tercemar. Tak ada tanda-tanda kerusakan atau pertanda bahwa pernah ada manusia yang tinggal di sana. Pemandangan yang benar-benar melenakan sehingga dapat membuat orang melupakan segala hal.

Selama pengembaraannya Sinbad belum pernah melihat pulau seindah ini. rasa penasarannya membuatnya ingin menjelajahinya. Dengan mengambil buah-buahan dari pohon terdekat yang berada di dekatnya, Sinbad dapat mengatasi rasa laparnya, kemudian memulai penjelajahannya.

Tiada henti-hentinya Sinbad merasa takjub dengan apa yang dia lihat sepanjang perjalanannya. Mulutnya sibuk melafaskan pujian atas keidahan ciptaan Tuhan ini. banyak hal-hal yang aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pohonnya, batu-batuannya, pasirnya, langitnya, semuanya menyimpan kesan aneh nan misterius.

Sesaat kemudian Sinbad sadar bahwa di sini tak ada makhluk hidup lain selain dirinya. Jangankan hewan yang biasa ditemukan di hutan seperti kijang ataupun burung, serangga kecil ataupun kupu-kupu tak dapat ia temukan. Apalagi manusia. Kini ia merasa khawatir dengan kesendiriannya. "aneh" desirnya.

Di ujung hutan ia melihat sesuatu yang mengejutkannya. Hutan itu buntu, tertutup bebatuan besar yang tinggi menjulang sampai kelangit,. Di depan batuan itu terdapat sesosok makhluk yang duduk bersila menjaganya. Sebuah tengkorak manusia tanpa kulit dan daging yang diam kaku. Duduk di atas batu datar setinggi lutut seakan dibuat khusus untuk menjadi tempat penjagaan khusus bagi tengkorak itu.

Baru saja Sinbad hendak berbalik dan melangkah pergi, tiba-tiba tengkorak itu membuka matanya. Menatap tajam mata Sinbad. Sinbad terkejut. Mata itu hitam, dalam, dan pekat. Ada rasa kematian di dalamnya. Ditengah hitamnya terdapat bola mata merah yang terang. Tajam dan menusuk.

"akhirnya datang juga, wahai orang yang terpilih. Sudah lama aku menunggumu." Kata tengkorak itu mengagetkan Sinbad. Ia berdiri dan mendekati Sinbad yang masih terpana dan terdiam kaku, tak tahu apa yang harus ia lakukan.

"kenapa kau diam saja, wahai manusia. Siapa namamu?"

Sinbad tak kuasa menjawabnya. Baru kali ini ia mengalami kejadian seperti ini. berhadapan dengan tengkorak yang hidup dan dapat berbicara. Begitu dekat dan begitu nyata.

"jawablah, kau tidak tuli bukan?" lanjut tenkorak itu.

" Namaku Sinbad. Namamu sendiri siapa?" jawab Sinbad setelah ia berhasil mengatasi ketakutannya. Untung saja ia punya banyak pengalaman dan sering mengalami keadaan berbahaya, jadi ia dapat berpikir jernih saat berbahadapan dengan situasi yang terjadi dengan tiba-tiba dan keadaan yang tak disangka-sangka.

"oh, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Orang-orang menyebutku Ornias." Jawabnya.

"Ornias?" gumam Sinbad. Ia merasa kenal dengan nama itu. Nama itu seakan tersimpan dalam dan terkubur jauh di dalam ingatnya. Seakan telah lama tak terpakai. Dia telah lupa kapan dan dimana ia mendengarnya. Cuma perasaanya sadar bahwa ia tahu sesuatu tentang nama itu.

" oke. Berikanlah benda itu padaku. Biar aku selesaikan tugasku." kata Ornias.

" benda apa? Tugas apa?" tanya Sinbad tak mengerti.

" cincin di jarimu itu. Cincin itulah yang membawamu kemari. Ke negeri kami." Jawabnya.

" cincin ini? negeri ini? apa maksudmu?" Sinbad semakin tak mengerti.

" cincin inilah yang membawamu kesini. Ke negeri kami, negeri para Jin.” Ia berhenti sejenak, untuk melihat respon Sinbad.

“Apakah kau pernah mendengar cerita Nabi Sulaiman?" lanjut tengkorak itu.

" Nabi Sulaiman?" pertanyaan itu mengingatkan Sinbad pada cerita kesukaannya ketika kanak-kanak. Cerita tentang Nabi Sulaiman yang dapat mengendalikan Jin. Dimana dengan kekuatan cincinnya ia dapat menundukkan para Jin agar patuh terhadap perintahnya.

Sinbad juga teringat tentang siapa Ornias sebenarnya. Ornias yang ia tahu adalah salah satu dari Jin Nabi Sulaiman yang mempunyai taring yang panjang seperti Vampire.

" Ornias? Kaukah Jin Nabi Sulaiman itu? Tapi kenapa kau tinggal tulang-belulang seperti ini?" tanya Sinbad penasaran.

" ini bentuk yang paling pantas dan paling aku sukai. Lagipula, Jin bisa berubah menjadi apa saja.” Jawab Ornias.

“lalu apa maksudmu dengan tugas itu?”

“ kau tahu? Ia bertanya, tapi ia sudah tahu apa jawabnya. “Aku diperintahkan Nabi Sulaiman untuk mengunci mati kurungan iblis ini” jawab Orias sambil menunjuk batuan yang berada di belakangnya.”Azazel, Iblis Pembangkang yang menolak bersujud kepada Nabi Adam.” Lanjutnya.

Sinbad paham betul dengan apa yang didengarnya. Sejak kecil ia telah mendengar cerita tentang para Nabi termasuk Nabi Sulaiman dan cincinnya. Selama ini ia merasa cerita-cerita tersebut –kecuali yang tertulis dalam Al Qur’an tentunya- hanyalah cerita yang terlalu berlebih-lebihan. Di bumbui hal-hal yang luar biasa. Tapi kini ia percaya, setidaknya yang ia alami sekarang nyata dan benar-benar terjadi pada dirinya.

Sinbad melihat lagi cincin yang sedang dipakainya sekarang. Sebuah cincin antik berlambang heksagram berujung enam yang berada dalam dua lingkaran yang konsentris. Di tengahnya terdapat tulisan berbahasa Canaanitish yaitu bahasa Yahudi yang paling kuno dalam ukuran yang Sangat kecil. Sinbad tak dapat membacanya apalagi megartikannya.

Cincin ini belum lama ia dapatkan. Tepatnya pagi hari sebelum badai terjadi. Ia mendapatkannya setelah mengalahkan para perompak yang mencoba merampok kapalnya. Ia tak menyangka sama sekali cincin ini mempunyai rahasia sebesar ini. Ia yakin cincin ini berhubungan dengan badai, terombang-ambingnya dia di lautan, dan terdamparnya ia di pulau misterius ini.

“ lalu apa hubungan antara cerita ini, cincin itu dan aku?” Tanya Sinbad.

“ baiklah akan aku jelaskan padamu. Ini adalah negeri kami, negeri para Jin. Pulau ini adalah pintu gerbang untuk memasukinya. Negeri yang sebenarnya berada di balik batu ini. Di sana terkurung Azazel, Si Iblis Pembangkang. Nabi Sulaiman berhasil mengurungnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kurungan itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Nah tugas kitalah untuk menguncinya lagi. Dan kaulah yang terpilih untuk melakukan tugas itu.”

“Kehendak Nabi Sulaiman dalam cincin itulah yang memilihmu. Sedangkan aku, Si Ornias inilah yang akan membantumu. Nabi Sulaiman sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, dan kini saatnya sudah tiba. Hari ini adalah harinya, hari yang sudah berabad-abad aku nantikan. Cincin itu adalah segel kurungan itu, dan kaulah orang yang terpilih itu.” kata Ornias mengakhiri penjelasannya.

“Nah, mari kita mulai” lanjutnya.

Setelah itu ia menghadap dinding batu itu, lalu megucapkan mantra dalam bahasa Canaanitish. Dan sesaat setelahnya terbukalah dinding batu itu. Di dalamnya tampak ruangan yang gelap dan pekat. Dan beberapa detik kemudian Ornias menghentakkan tangannya. Dari tangannya keluar bola api. Bola api itu melesat menyambar altar yang berada tepat di tengah gua itu. Sekejap kemudian gua itu dipenuhi cahaya dari nyala api.

“ nah sekarang biarkan aku melihat cincin itu” kata Ornias.

Belum sempat Sinbad memberikan cincin itu kepada Ornias. Tiba-tiba sesosok makhluk bergerak cepat menyambar cincin itu dari tangan Sinbad.

“Ifrit!!!” teriak Ornias.

Makhlik itu melesat masuk ke dalam gua sembari tertawa puas.

“ Cepat Sinbad. Kita kejar dia. Sebelum dia membebaskan Azazel.”

Ornias melepaskan wujud tengkoraknya. Ia merubah dirinya menjadi bentuk halusnya yang transparan. Bertanduk dua dan bertaring runcing dan panjang. Inilah wujudnya yang asli. Ia terbang mengejar Ifrit. Sinbad berlari dibelakangnya. Bingung dengan apa yang terjadi.

“ wahai cincin Raja, bukalah pintu negeri Jin sekarang!!!” teriak Ifrit.

Tiba-tiba sebuah lubang hitam muncul di dinding. Hitam, pekat. Ifrit melesat masuk, diikuti oleh Ornias.

“ woi.. tunggu!!” teriak Sinbad terlambat.

Sinbad pun memberanikan diri memasuki lubang hitam itu. Dalam dan pekat, itulah yang ia rasakan. Gara gravitasi menariknya terus ke bawah.

Sinbad terjatuh di atas tanah kering. Pemandangan di sekelilinggnya aneh dan ganjil. Gunung gelap yang menjulang tinggi hingga tak terlihat puncaknya mengelilinginya. Semburan api dari retakan tanah bersinar kontras bagaikan kristal di tengah kegelapan.

Gunung-gunung itu terbakar oleh api tanpa asap. Api menyembur-nyembur dari jutaan retakan gunung. Terangnya menyinari langit tak berbintang.

Dari tanah bawahnya, lubang-lubang dan retakan tanah menyemburkan lahar yang panas. Hawa panas memenuhi dada Sinbad. Dia harus berhati-hati dan harus segera pergi dari tempat ini sebelum ia benar-benar mati kepanasan.

Dia melihat sekeliling, mencari keberadaan Ornias dan Ifrit. Dari suatu istana yang tak jauh dari tempat ia berpijak ia mendengar suara pertarungan. Ia berlari ke arah istana itu. Ke Lahar Halibanon. Istana Raja Sulaiman yang di bangun bangsa Jin atas perintah Sang Raja. Bahannya dari dunia Jin dan di sanalah tersimpan barang-barang peninggalan Nabi Sulaiman yang paling berharga.

Istana itu dibangun tinggi di atas pondasinya. Di keempat sisi sudutnya terdapat tangga lebar untuk dilalui manusia.

Sinbad sampai di sebuah aula besar yang dikelilingi pilar-pilar raksasa tempat kedua bangsa Jin itu bertarung. Mereka sudah berubah bentuk. Ifrit berubah menjadi Harimau merah. Dari tubuhnya menyala api yang sanat panas. Ornias berubah menjadi Naga biru. Mereka saling mencakar, dan mencoba menjatuhkan lawannya.

Ifrit yang menjadi Harimau merah berubah lagi. Dari badannya keluar sayap berapi sehingga sekarang ia bisa terbang bebas zigzag melewati pilar-pilar, membuat Sang Naga kebingungan. Sesaat kemudian ia mengepakkan sayap barunya dan menembakkan ratusan jarum-jarum api. Jarum itu sekeras besi, lebih tajam dari pisau dan panas membara.

Sadar akan hal itu Sang Naga segera melilitkan ekornya keseluruh tubuh dan mengubahnya menjadi tempurung kura-kura yang tebal dan lebih kuat dari jarum-jarum itu sehingga serangan itu dapat ditahannya.

Tapi Sang Harimau ternyata telah berpindah tempat. Ia kini berada dibelakang Sang Naga, tempat dimana San Naga tak terlindung perisai tempurungnya sama sekali. Kemudian ia menendang Sang Naga dengan keras. Naga tersebut terpelanting menabrak pilar-pilar. Kemudian pilar-pilar hancur itu menimpa Sang Naga. Melihat hal itu, Sang Harimau tak memberi ampun. Ia menembakkan bulu-bulu sayap berapinya lagi.

Sang Naga berusaha melindungi diri dengan tempurung kura-kuranya. Tapi sayang ia terlambat. Sebagian dari jarum-jarum itu telah mengenainya. Darah merah kental mengalir dari tubuhnya.

Pertarungan masih berlanjut. Sang Harimau Bersayap kini menembakkan lahar api dari mulutnya. Sang Naga yang sudah sulit untuk menghindar terpaksa menerima serangannya dengan tamengnya lagi. lagi, lagi dan lagi. Sang Harimau Bersayap tak henti-hentinya menembakkan bola apinya. sampai akhirnya Sang Naga tak berdaya.

Kini Harimau itu telah kembali ke wujud aslinya. Ifrit Si Jin Api.

“huahahahaha Ornias, aku juga telah lama menunggu hari ini datang. Hari dimana aku bisa membebaskan tuanku, Sang Raja Kegelapan, Azazel.”

“dan kau Ornias, bersiaplah. Kau akan kukurung dalam cincin ini. kau akan menjadi budak bagi orang yang memiliki cincin ini.” kata Ifrit sambil memamerkan cincinnya.

Cincin itu disebut cincin kurungan para Jin. Cincin itu memiliki segel berlambang Pentalpha dengan huruf kaligrafi berbahasa Canaanitish di tengahnya. Bangsa Jin memang tak bisa mati, karena umur mereka telah ditangguhkan oleh Allah sampai hari kiamat. Akan tetapi, walaupun mereka tak bisa mati, mereka bisa dikurung. Salah satu media untuk mengurungnya adalah cincin di tanan Ifrit itu.

Baru saja Ifrit ingin membuka segel cincin itu untuk mengurung Ornias, Sinbad menerjang maju, melemparkan pisau lipatnya ke arah Ifrit. Sayangnya Ifrit adalah Jin. Ia tak dapat dilukai oleh benda-benda buatan manusia. Pisau Sinbad menembus tubuhnya. menghantam pilar dan kemudian jatuh kelantai diiringi suara berdenting.

“ oh, ternyata masih ada pengganggu kecil di sini. Aku lupa padamu, anak manusia. Kau akan lihat Ornias, bagaimana aku menghabisi anak keturunan Adam ini.” ancamnya.

“ aku tak takut padamu. Aku hanya takut pada pemilik nyawamu. Allah SWT.” teriak Sinbad. “Allahu Akbar!!!”

Ifrit marah mendengarnya. Akalnya dipenuhi amarah.

“ lancang kau” teriak Ifrit sambil bersiap menembakkan bola apinya ke arah Sinbad. Tapi tiba-tiba sebuah bola api biru menghantam tangannya, dan sekejap kemudian meledak, membuat cincinnya terjatuh.

“ akh..Ornias. kau masih punya tenaga..” teriak Ifrit murka.

“ aku sudah menunggu kesempatan ini.” jawab Ornias.

“ Sinbad, ambil cincinnya. buka segel penguncinya dan arahkan kearahnya. Kurung!!!” teriak Ornias.

Sinbad paham betul apa yang harus ia lakukan. ia jumpalitan menerobos pilar-pilar dan akhirnya ia mendapatkannya.

“ nikmatilah penjaramu, Jin jahat” teriak Sinbad.

“ tidaaakkkk!!!!” teriak histeris Ifrit membahana ketika ia tersedot masuk ke dalam cincin itu.

Sinbad menyelesaikan tugas terakhirnya dengan menutup kembali segel itu. Dan akhirnya Ifrit telah resmi menjadi tahanan sang cincin.

Mereka lega atas apa yang terjadi. Puji dan syukur mereka panjatkan kepada Allah karena atas pertolongan-Nya lah mereka bisa selamat dari tangan Jin jahat itu.

“ nah, mari kita selesaikan tugas kita. mengurung Azazel.” kata Ornias. ia telah kembali ke wujud aslinya.

Akan tetapi betapa tekejutnya mereka berdua ketika tak menemukan cincin Nabi Sulaiman yang mereka cari.

“ dimana cincinnya? apa ikut terhisap bersama Ifrit?” Tanya Sinbad khawatir.

“ tidak mungkin. Cincin pengurung hanya bisa menghisap Jin, bukan benda-benda seperti cincin itu.” jawab Ornias.,

“ lalu bagaimana?” Tanya Sinbad.

“ aku juga tak tahu. tapi perasaanku mengatakan ada yang tak beres di sini. tampaknya ini semua belum berakhir….”

Ternyata benar. Belum selesai Ornias menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara yang membelah angkasa.

“ GROOOAAARR!!!”

“ GROOAAAARRRRR!!!”

“Suara apa itu?” Tanya Sinbad.

“AZAZEL..!!!” kata Ornias terkejut. “ gawat, aku lengah. Tampaknya Ifrit tidak bergerak sendirian. Bisa jadi Ifrit hanyalah umpan untuk menjauhkan kita dari kurungan Azazel.”

“ tutup matamu Sinbad. kita akan berpindah dalam segejap ke tempat kurungan Azazel. “ lanjut Ornias.

Hanya dalam sekejap, mereka telah berpindah tempat. ketika Sinbad membuka matanya ia telah berada dalam suatu ruanagan yang dipenuhi asap, Sangat besar dan luas. Tak pernah ia melihat ruangan sebesar ini. Atapnya tak kelihatan. Tampaknya ruangan ini setinnggi langit. Tepat di depan Sinbad, berdiri kokoh sebuah pintu yang besar yang menjulang tinggi. Tak terlihat ujung atasnya, seakan pintu itu terpasang langsung dari langit kelam diatasnya.

Dari celah pintu yang terbuka sedikit, Sinbad sangat terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah mata merah nan tajam mengintip tajam dari celah itu. Ada amarah dan kebencian terpancar dari matanya. Membuat tubuh Sinbad bergetar hebat. Ketakutan menguasainya.

“ terlambat Ornias, Sang Raja telah bangkit” kata Jin yang melayang di depan pintu segel.”segel telah terbuka” lanjutnya.

“ Rabdos!!” teriak Ornias. “ Jahanam, seharusnya aku tahu. kau bekerja sama dengan Ifrit.”

“ kau bukan lawanku.” Ornias maju menyerang.

“ Oh ya?” kata Rabdos meremehkan. Ia menghindar dan kemudia berputar ke belakang Ornias.

“ kau sedang terluka kawan.” Kata Rabdos mencakar punggung Rabdos dengan kukunya yang tajam.

Pertarungan antara tubuh halus pun terjadi. Sementara itu pintu segel terbuka sedikit demi sedikit. Celahnya menjadi semakin besar. Azazel tak sabar lagi ingin terbebas dari kurungannya.

“ Sinbad, kunci segelnya kembali.” Teriak Ornias menyadarkan Sinbad.

“ Sinbad..cepat!!!”

Sinbad tahu apa yang harus ia lakukan. Mungkin jika orang biasa yang mengalami hal ini ia sudah mati ketakutan. Tapi Sinbad berbeda, pengalaman dan keimanannya membuatnya dapat mengatasi ketakutannya.

Bagi Sinbad tak ada rasa takut terhadap makhluk. Setiap pengembaraannya menjelajahi laut telah ia persiapkan dirinya untuk mati. Jin, setan, manusia, semuanya tak perlu ditakuti. Yang harus ditakuti hanyalah Allah, pemilik jiwa Jin, Setan dan Manuisia itu sendiri.

Semua hal tak akan terjadi tanpa ada izin-Nya. Walaupun seluruh Jin, setan, dan manusia bersatu, tak akan terjatuh sehelai rambutpun tanpa izin-Nya. Takdir Allah pasti akan terjadi tapi tugas kitalah untuk mengupayakan yang terbaik.

Tak perlu takut akan kematian karena kematian akan tetap datang walaupun manusia bersembunyi darinya. Hal itulah yang menumbuhkan keberanian Sinbad. Sinbad menerjang maju menuju pintu segel.

“ tak akan kubiarkan.” Rabdos mencoba menghalangi Sinbad dengan menembakkan bola api.

“ lawanmu itu aku!!!” Ornias menghantam Rabdos sehingga gagal menembakkan bola apinya.

Pertarungan pun terus berlanjut sementara Sinbad terus maju menerjang gumpalan asap. Namun Rabdos tetap tak mengizinkan, ia kembali menembakkan bola api, tapi kali ini Ornias tak sempat menghentikannya.

“ Sinbad..!!” teriak Ornias.

Sinbad sadar, ia menghindar. Tapi terlambat. Walaupun berhasil menghindarinya, api itu meledakkan lantai. Ledakkan dari pecahan lantai itu berterbangan menghantam Sinbad. Ia terjatuh dan tak kuasa untuk berdiri.

Melihat itu Ornias langsung bertindak. Dia menangkap tubuh Ifrit dengan tubuhnya, merangkulnya dan kemudian menguncinya.

“ Sinbad, aku dan dia akan masuk ke dalam kurungan itu. Ketika kami telah masuk, secepatnya kau hancurkan segelnya. Aku yakin kau bisa melakukannya.!!!”

Radrod berontak. Ia tak mau masuk ke dalam kurungan itu bersama Ornias dan Azazel tentunya.

“ aku tak mau..Kau juga akan ikut terkurung, Ornias.” Jawab Sinbad.

“ tak mengapa, Sinbad. Aku senang dapat menyelesaikan tugasku. Aku senang dapat menebus kesalahanku kepada Nabi Sulaiman. “ jawabnya tenang. Telah nampak ketenangan dalam hatinya.

Tanpa menunggu lagi, Ornias memaksa masuk ke dalam celah kurungan itu diiringi teriakan Rabdos. Celah itu memang terlalu kecil untuk jalan keluar bagi Azazel. Tubuhnya terlalu besar. Tapi bagi Ornias dan Radros itu sudah cukup besar untuk masuk ke dalamnya.

“ sekarang Sinbad. Lemparkan pisaumu ke arah segelnya” teriak Ornias.

“ TRAAKK..!!” terdengar suara cincin yang hancur terkena pisau. Sinbad memang bukan pelempar pisau gadungan. Lemparannya hampir sempurna. Ini berkat latihannya yang keras.

Seketika itu juga pintu itu menutup. Terdengar teriakan dan erangan Radrob yang tidak terima ini terjadi.

“ Sinbad, dengan hancurnya segel ini berarti suatu saat nanti Azazel akan bebas kembali. Tapi ingatlah takdir Allah pasti akan terjadi. Biar Allah yang menyelesaikannya. Tugas kita sudah selesai. Terimakasih atas antuannmu. Aku Sangat senang dapat berjumpa denganmu.” Suara Ornias terngiang di telinga Sinbad bersamaan dengan suara pintu yang tertutup, teriakan Radrob dan kemarahan Azazel.

Entah apa yang akan terjadi pada Ornias, tak ada yang tahu. Wallahua’lam hanya Allah yang berkenan atas segala sesuatu..

Kini Sinbad pun telah kehabisan tenaga. Tenaganya dipertaruhkan dalam lemparannya yang terakhirnya tadi. Matanya pun tertutup. Tak sadakan diri.

Sinbad mencoba membuka matanya. Begitu berat untuk terbuka. Begitu terkejutnya ia ketika sadar ia berada dimana. Ia tidak berada di negeri Jin. Dia sedang dikelilingi manusia-manusia yang ia kenal.

“ kapten, alhamdulillah kapten telah sadar. Sudah 3 hari kapten tak sadarkan diri.”

“ apa yang terjadi? Bukankah kapal kita hancur? Dan kita terpisah-pisah, hilang tertelan badai?” Tanya Sinbad yang masih bingung.

“ tak ada badai kapten. Semuanya baik-baik saja.” Jawab salah satu awak kapalnya.

“ tapi, kenapa aku bisa tak sadarkan diri?” Tanya Sinbad lagi

semenjak kapten terkena pisau beracun dari para perompak 3 hari yang lalu kapten tak sadarkan diri.”

“ jadi aku bermimpi? Tapi sungguh terasa sangat nyata.” Gumam Sinbad dalam hati.

Sesaat kemudian ia teringat akan cincin Nabi Sulaiman. “ cincin itu? Dimana cincin itu? dimana cincin rampasan dari perompak itu? Tanya Sinbad.

“ cincin apa? Tanya kru kapalnya.

“ cincin . . .” Sinbad tak melanjutkan perkataannya. Ia sadar, para kru kapalya tak akan merngerti apa yang telah terjadi. Percuma saja. Kru kapalnya tak akan tahu dan mungkin tak akan pernah tahu. Mungkin tak pernah ada negeri Jin. Mungkin Ornias, Ifrit, Rabdos atau Azazel atau bahkan cincin Nabi Sulaiman itu adalah khayalannya saja. Semuanya tak pernah terjadi. Atau mungkin semuanya tak ada yang nyata.

Tak ada sisa-sisa keberadaanya di sana. Bukti keberadaannya di sana. Cuma menyisakan kelelahan yang sangat dan tubuh yang rasanya remuk redam.

Tak ada yang pernah tahu cerita ini kecuali Sinbad dan Tuhan Yang Maha Tahu. Wallahu’alam.

Lalu? Kenapa aku tahu?

Wah aku juga tak mengerti kenapa aku bias tahu? Wallahu a’lam..

Tugasku hanya untuk menceritakan cerita ini padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak.

Bandung,

30 desember 2008

10.06 WIB

(Cerita ini murni karangan bebas saya. Tak ada referensi yang dapat dipercaya. Murni rekayasa belaka. Nama-nama yang tertulis memang diambil dari buku-buku yang bercerita tentang Jin dan seperti yang tertulis dari kitab Taurat, tapi kebenarannya tak dapat dijamin. Buku-buku yang menjadi bahan rujukan saya adalah sebuah novel sufi mistisme berjudul Sang Raja Jin karya Irving Karchmar, Arabian night atau yang lebih dikenal cerita 10001 malam, dan komik-komik jepang )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar